Pasrah

Sabtu kemarin menyelesaikan membaca sebuah buku berjudul "Joker" karya Valiant Budi, si @vabyo. Kata editornya, si Vabyo ini pintar bikin teka-teki. Itu betul.

Beda dengan Kedai 1001 Mimpi yang isinya agak slengean dan mengalir kocak, Joker ini penuh teka-teki, fragmen yang saling terkait satu sama lain. Tapi apa keterkaitannya? Itulah yang sulit dirangkai bahkan sampai tiga per empat buku.

Buatku, Joker ini adalah tipe buku yang memaksa kita untuk "pasrah". Pasrah saja dituntun si penulis. Pasrah menikmati setiap tanda tanya. Meskipun dugaan dan terkaan muncul, pasrah saja menunggu jawabannya.

Pasrah. Sampai di halaman terakhir dan satu-satunya kata yang bisa terucap dari mulutku adalah : "damn..!"

Pasrah.

Sama pasrahnya terseret arus kisah yang mungkin ending-nya sudah bisa diterka. Atau mungkin juga tidak. Sama pasrahnya seperti otak menyerah pada hati.
Sama pasrahnya seperti hati, untuk kemudian dicecar si otak,
"told you so.."

Iya, saya sedang galau. x))

Which one do you prefer..?

This is a world of balance. Untuk segala sesuatu selalu ada pasangannya, seperti pedang bermata dua.

Bahkan untuk sebuah berita yang bagi sebagian besar orang dianggap kabar baik, ternyata bisa bikin galau si yang bersangkutan. Karena itulah akhir-akhir ini aku punya kebiasaan nanya sama si yang bersangkutan pengen dikasih respon gimana.

Seperti beberapa waktu lalu, waktu ada teman dapat "kabar baik", tapi aku tahu itu mengharuskan dia berhadapan dengan perubahan drastis dan pilihan yang berat. Aku tanya ke dia, "which one do you prefer, a congratulatory or a ganbatte..?" Dan dia bilang, "both." So I gave him both.

Atau seperti waktu ada yang bilang, "some things aren't right but it was better than I expected". What could possibly be the best response for that? I didn't know. So I asked him, "which one do you prefer, a "good for you" or "hang in there"..? And he said he needed a "hang in there".. So I told him to hang in there..

Because I never really know what they're struggling with. I never really know what they're feeling. I'm not good in dealing with emotion. I'm not good with words either. And I definitely suck at giving consolation.

So I think.. The least I can do is trying not to give the wrong response.

Dream it into life

"kacamataku rusak, jadi sebetulnya aku malas keluar2.... Patah."

Awalnya sih percakapan berlanjut seperti biasa, seperti "rusak kenapa? Kok bisa patah? Kacamata apa?" dst dst.. Sampai kemudian aku tersadar......

Aaack~~! Rasanya semalam aku baru aja mimpi kacamataku rusak. Entah frame-nya penyok atau patah, yang jelas sama sekali irreparable.

Kebetulan..? Mungkin sekali.
Yang jelas aku langsung ingat kejadian sekitar 1 bulan lalu.

Waktu itu aku sedang hibernasi belasan jam ketika mimpi absurd itu muncul. Setting mimpinya di Solo. Lebih spesifik lagi, Lomba Pump It Up di Solo. Aku ingat lihat kaosnya Spicy. Aku juga ingat beberapa orang temanku ikut dalam kompetisi itu: Chrisna, Erik, Wisnu, dan juga Christ yang jauh-jauh datang dari Surabaya, katanya sih sama-sama 14 orang anggota Sapphire lainnya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka memenangkan kompetisi tersebut. Dan waktu aku ngobrol sama Christ yang lagi mourning kekalahan mereka, tiba-tiba kami menemukan sebuah ransel besar yang isinya penuh buku kumpulan soal USM STAN (huh??) dan sebuah trophy juara 2, dengan nama Edwin.

(FYI, as far as i know, there's a great pumper in Jogja named Edwin who has a shot in winning such competition. Big shot.)

Yang absurd adalah.. Begitu aku terbangun dari mimpi itu, aku buka twitter dan mendapat kabar kalau si Erik sedang ikut lomba Pump di Jogja. Huh.. Meleset 2 jam lokasinya ternyata.. :))

Dan di penghujung hari, aku dikasih tahu hasil lomba tersebut. Si Erik menang di advance (yeaaay~~!), sementara untuk speed male-nya, juara 2 dikantongi oleh Edwin...

.......... Huh... Quite a dream, eh..? :/

Yang masih jadi misteri.... Itu kenapa tiba-tiba ada buku USM di mimpiku..? Satu tas penuh pula.. :))

Mungkinkah karena aku bakal kuliah lagi disana tahun depan..? ;)
Semoga.

Dealing with change.

Last year I learned one of the most wonderful lessons in my life: how a simple greeting can turn a stranger into a family.. How a simple "hi" can change my life..

But lately I've been struggling with another lesson, that when we learn something new about somebody, we are faced with a greater task ahead of us: to adapt to it..

Some might say it's troublesome.. (s)he's the one who brings the change but why are we even being bothered to be the ones to adapt..? Sometimes we might even have to change our perspective and shift our paradigm.. And awkward moments are inevitable before things are finally back to whatever closest to being normal.. Because you see, change isn't always easy to deal with..

So you'd say, such a tremendous task it is.. But hey.. apparently... When we keep in mind how precious that somebody to our heart..... We'd be happy to.. :)

We Should Get Coffee Sometimes

"We should get coffee sometimes."

Iya, kedengarannya seperti semacam lame pick-up line. Dan entah kenapa sepanjang sore satu kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Coffee..? We..? We as in me and who, exactly? Naaaaah, no particular person in mind, really.

Well, okay. Two, actually. One friend I haven't seen in quite a long time, and one i haven't met at all. Not in flesh.

Why coffee? Why not beer, like Nova suggested? (Euh, I'm not really a fan of beer) Why not sekoteng? Why not saraba? Why not cendol?

Entah kenapa, tampaknya kopi terasa lebih akrab, lebih hangat. Mungkin karena terkenang masa kuliah dulu, sering nongkrong di Akang dengan segelas kopi untuk menemani obrolan kami ngalor-ngidul kesana kemari sampai berjam-jam. Tertawa, ceng-cengan, serius, berbagi kisah.

We should get coffee sometimes.

We should find a nice place and sit together with two cups of coffee between us. We can talk about things we haven't told each other for quite some times. We can tell things we don't tell to anyone else. We can tell jokes and funny stories and laugh at them. We can share our burden and feel better afterward. We can get to know each other (better).
Yes, I can see us laughing. I can see us enjoying our time.

Yes, we should get coffee sometimes. Even when knowing that what I thought I saw might turn as bitter as the coffee we sip.

Universe

(saduran lama, pernah diminta Cukong buat di-share di group bbm.)

Tahukah Anda bahwa membuat diagram tata surya dg skala yang tepat, alih2 diagram rapi yang ada di sekolah2, sebenarnya mustahil dilakukan?

Anggaplah bumi diandaikan sebesar biji kacang polong, maka jupiter akan berada kurang lebih 300meter jauhnya, dan pluto bahkan tak mungkin terlihat karena berjarak 2,5km dengan ukuran sebesar bakteri.

Dg skala yg sama, proxima centauri, bintang terdekat dari tata surya kita akan berjarak 1.600km. Bahkan dg kecepatan cahaya, 300.000km/detik, dibutuhkan 7jam untuk mencapai Pluto. Sementara best speed dari spacecrafts adalah 56rb km/jam. Dg kecepatan tersebut dibutuhkan 9tahun untuk mencapai Uranus,dan 12tahun untuk mencapai orbit Pluto. Yang rupanya sama sekali bukanlah ujung tata surya kita.

Ujung tata surya kita adalah Oort cloud --vast celestial realm of drifting comets. Untuk mencapainya dari Pluto dibutuhkan waktu selama --EHEEEM..!!-- sepuluh ribu tahun.

Wow... Ain't those numbers give us a new understanding on how ENORMOUS universe is? :D

(Sumber: "A Short History of Nearly Everything" - Bill Bryson . I really love this book though it's been ages and I haven't finished reading it.. >_<)

Invictus

(I'm not much into poetry but I've always liked this one. Never get bored of it. And from time to time, it never fails to remind me that I am strong. I have to be strong.)

Invictus
(William Ernest Henley)

Out of the night that covers me
Black as the pit from pole to pole
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud
Under the bludgeonings of change
My head is bloody but unbowed

Beyond this places of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid

It matters not how strait the gate
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate
I am the captain of my soul

Obnoxious

Sepanjang sore kemaren, 11 April 2012, timeline jadi berwarna karena pemberitaan gempa 8,9 SR dan peringatan tsunami di Aceh. Ada yang khawatir, ada yang me-retweet informasi terbaru dari akun portal berita, ada yang marah-marah karena banyak berita palsu dan berlebihan, ada juga yang mengingatkan daripada marah-marah lebih baik tetap waspada. Dan kemudian aku tertegun saat membaca ada yang bilang, "ini adalah peringatan dari Tuhan."

Peringatan Tuhan.

Well forgive my snort. I think those who said that was heartless. Yes, completely heartless. Oke, oke, katakanlah iya, itu peringatan dari Tuhan, tapi menurutku momennya benar-benar ngga pas. Ya bayangkan saja, orang lagi panik, khawatir, takut, sama sekali ngga tahu gimana nasib mereka dan keluarga mereka beberapa jam ke depan. Hell, aku bahkan ga bisa ngebayangin apa yang kira-kira mereka rasakan saat itu. Dan tiba-tiba saja orang bilang, "Lagi diingetin Tuhan tuuuuuh... Makanya banyak ibadaaaah.. Makanya jangan maksiat teruuuus.."

Helloooo.. Peringatan bahaya tsunami-nya bahkan belum juga dicabut. Segitu udah suci kah hidupnya bisa bilang begitu? Ngga ada compassion sama sekali kah sama mereka yang masih dibayang-bayangi horor kemungkinan kehilangan segalanya? Haruskah diingatkan posisi mereka yang bilang itu dan keluarganya saat itu ribuan kilometer dan sepenuhnya aman dari area gempa?

Oh, hell. If I were in their position and somebody said those kind of things to me, I'd definitely punch him on the nose. Or maybe the balls, instead.