(Walau dengan penampakan prt disiksa majikan,) Posko! Aku Datang!
Jadi.. Ceritanya bermula dari bulan lalu, ketika Razet datang ke Manado untuk pelantikan Anggota Muda STAPALA BDK Manado. Di saat dia bercerita tentang posko dan kegiatannya, aku tiba-tiba sadar kalau aku benar-benar kangen sama posko. Kangen suasananya, ceng-cengannya, nuansa kekeluargaannya yang unik dan khas, dan semua romantika yang dihadirkan ketika berada di ruangan kecil padat dan berantakan itu.
Sejak penempatan di Manado, memang sudah beberapa kali aku ke posko, tapi selalu di hari libur jadi sepi dan tak banyak orang. Semua romantika itu tak terasa.
Begitu pula dengan gunung. Entah kapan terakhir kali aku naik gunung dengan anak Stapala. Kangen sekali dengan dinginnya gunung-gunung basah di Jawa Barat, berkerumun di depan tenda bersama saudara-saudara beraneka etnis dan budaya. Maka ketika Razet bilang mau ada jambore, kuputuskan aku mau ikut.
Satu bulan terakhir ini aku disibukkan dengan penugasan yang bikin stres karena timnya nyaris tidak pernah lengkap. Mulai dari teman anggota tim yang harus diklat ke Ciawi sampai ketua tim yang tiba-tiba kena stroke. Beban pekerjaan jadi berlipat ganda, ditambah mitra kerja yang sulit diajak bekerja sama.
Setiap kali mau ambruk, yang diingat di ujung penugasan mau ke posko, jalan-jalan, refreshing. Dan semangat muncul lagi.
Lalu tibalah sehari sebelum berangkat ke posko. Lembur di kantor, berusaha keras menyelesaikan apa yang harus diselesaikan lalu web check in. Hati ini sudah bersorak girang, memutuskan untuk mampir beli oleh2 buat anak2 posko.
Aku ingat aku tidak sedang melamun. Aku berpikir, tapi tidak melamun. Sadar, aku melihat sebuah angkot bergerak melintas ke kiri di depanku. Aku pun mengerem, berusaha mengurangi laju motorku yang sesungguhnya saat itu pun tidak terlalu kencang. Tiba-tiba saja roda depanku oleng dan detik berikutnya mulutku menghantam aspal.
Seketika orang-orang berkerumun di sekitarku. Aku merasakan gigiku patah, dan ketika aku mengangkat kepala, darah mengucur deras dari bibirku yang sepertinya sobek parah.
Tiga jam sejak jatuh, darah belum juga berhenti mengalir. Dan selama tiga jam itu rasanya benar-benar ngga karuan. Lebih dari sakit karena luka, rasanya benar-benar menyesakkan tiap memikirkan harus batal berangkat. Rasanya seperti dipecundangi setelah berjuang habis-habisan. Bahkan sampai tadi pagi, selalu saja salah menyebut kantor dengan posko.
Bermula dari bbm dengan balung, dia yang sedang di posko bercerita pada petoy yang kemudian meneleponku. (Wow, it meant so much!) Dua-duanya sibuk ngotot aku jadi berangkat saja. Aku sendiri masih galau, takut patah gigi dan luka bibir membuat susah makan, berujung jadi lemas, berujung jadi merepotkan yang lain. Tapi toh aku mencicil packing juga semalam, berharap lukanya sudah tertutup paginya.
Subuh, aku terbangun, mendapati darah masih mengalir dan bibir terasa kebas, sementara kaki mulai kaku. Pasrah, sudah tidak mungkin berangkat kalau begini. Percuma juga berangkat kalau tidak bisa enjoy.
Sialnya, kalau bukan untungnya, saat kembali tidur, aku memimpikan posko dan beberapa anak SPA, memimpikan lukaku kering dan aku bisa makan dengan entengnya.
Setengah 7, aku terbangun lagi, menimbang kondisi tubuhku. Tidak ada yang nyeri. Mencoba minum, sudah tidak ada lagi sengatan perih luar biasa ketika luka terkena air seperti malam sebelumnya. Mencoba makan biskuit, asal sedikit-sedikit makannya, sepertinya ada masalah. Terakhir, mencoba sikat gigi dan horaaay! Bisa! Tidak ada rasa sakit berlebih. I'm good to go.
Langsung saja aku mandi, packing seadanya, pesan taksi dan buru-buru menuju bandara. Nyaris terlambat, tapi toh akhirnya sekarang aku disini, di dalam pesawat, mengetik draft untuk di-upload setelah setibanya di jakarta nanti.
Posko. Aku datang..!